Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Tradisi Upacara Mengupah - upah Masyarakat Sumatera

Mangupa atau Upah-upah adalah upacara adat mandailing, yang bertujuan untuk mengembalikan tondi ke dalam tubuh. Tondi tersebut diyakini sebagai aspek kejiwaan manusia yang mempengaruhi semangat dan kematangan psikologis individu. Upacara mangupa merupakan salah satu upacara adat yang berasal dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. 

Mengenal Tradisi Upacara Mengupah - upah Masyarakat Sumatera

Upacara mangupa bertujuan untuk mengembalikan tondi ke dalam tubuh dan memohon berkah dari tuhan yang maha Esa agar selalu selamat, sehat, dan murah rezeki dalam kehidupannya. Kegiatan mangupa ini diadakan diseluruh wilayah yang masyarakatnya suku Mandailing. 

Suku Mandailing adalah suku yang mendiami Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Batubara di Provinsi Sumatera Utara. Beserta Sebagian masyarakat di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat, dan Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau. Mengupa terbagi beberapa jenis seperti mengupa hajat, mengupa sembuh sakit, mengupa selamat, dan mengupah khusus bagi seseorang yang dikhitan, menabalkan nama, pindahan rumah baru, dan menikah.

Mengupah-upah dilakukan dengan cara menghidangkan seperangkat bahan (perangkat pangupa) dan nasehat pangupa (hata pangupa: hata upah-upah dalam bahasa Mandailing) yang disusun secara sistematis dan dilakukan oleh berbagai pihak yang terdiri dari orangtua, raja-raja, dan pihak-pihak adat lainnya. Pelaksanaan Upacara Mangupa mencakup rangkaian kegiatan yaitu semua yang hadir termasuk pelantun Mangupa yang lazim disebut si Pengupah memasuki tempat pelaksanaan kegiatan. Umumnya mereka duduk membentuk lingkaran atau persegi panjang. Upacara biasa diadakan di dalam ruangan rumah atau pun di balai-balai yang khusus untuk acara ini. Kemudian orang yang akan di upah-upah diminta duduk bersila di tengah-tengah lingkaran atau mengambil bagian lingkarang dengan menghadap para hadirin.

Acara Mangupa masuk dalam perhelatan besar maka prosesinya dipimpin oleh seorang protokol. Namun apabila acara ini dalam skala kecil maka upacara akan dipimpin oleh si pelantun Mangupa. Kemudian bahan Pangupa yang telah dipersiapkan diletakkan di depan orang yang akan di upah-upah dengan ditutup kain selendang.  Adapun bahan-bahan untuk mengupah antara lain indahan tungkus merupakan nasi yang dibungkus oleh pihak laki-laki yang akan diberikan kepada pihak keluarga perempuan. Hal ini bermakna kebesaran hati terhadap keluarga perempuan dengan harapan apa yang dicita-citakan dapat terkabul. 

Selanjutnya parkayan merupakan hadiah dari pihak laki-laki terhadap keluarga pihak perempuan yang maknanya sebagai pengobat hati karena salah satu keluarganya akan dibawa menjadi pihak keluarga laki-laki. Selanjutnya Abit tonun patani merupakan tanda kultural masyarakat Mandailing, sebab kain adat ini merupakan penanda, kewibawaan dan kereligiusan. Abit tonun patani adalah kain hasil tenunan dengan warna coklat kemerah-merahan yang dikombinasikan dengan memakai benang emas dan sirumabi yang mengartikan kewibawaan dan kereligiusan. 

Kemudian disediakan pula Indahan nagorsing yang merupakan lambang dari kemakmuran. Warna kuning merupakan warna emas. Oleh sebab itu kemakmuran seperti emas yang diinginkan oleh pembuat nasi kuning. Lalu ada pula horis, merupakan alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Horis ini melambangkan hidup dan mati mempelai perempuan menjadi tanggung jawab mempelai laki-laki. 

Selanjutnya ada Sipulut merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang melambangkan bahwa semua yang dibicarakan akan melekat dan menyatu di hati sanubari setiap yang hadir. sipulut ini dianggap sebagai perekat di dalam setiap pembicaraan adat. 

Selanjutnya ada Bulung ujung merupakan daun pisang yang paling pucuk, sebab bagian ini  mengartikan berpendirian tetap seperti sifat daun pisang kalau dihembus angin tetap pada posisi semula. Kemudian piramanuk (telur) merupakan kebulatan persatuan antara tondi (jiwa) dan badan. Permohonan supaya jiwa dan raga bersatu padu seperti bagian putih dan kuning dari telur, bulat dan bersatu, kiasan keselamatan dan kesehatan. Kuning telur juga dilambangkan sebagai emas, dalam adat disebut istilah tarjomak sere artinya mendapat rezeki yang banyak. 

Selanjutnya ada Burangir atau sirih merupakan tanda pembuka pembicaraan dalam acara adat. Dalam masyarakat Mandailing sirih ini selalu digunakan sebelum acara markobar dilaksanakan. Setelah itu kedua mempelai nantinya akan dimandikan dengan pangir. Pangir merupakan simbol berakhirnya masa lajang dari kedua mempelai. 

Selanjutnya Palappak ni pisang (Pelepah batang pisang) artinya memberikan kesejukan dan kedamaian. Karena benda panas apapun diletakkan diatas pelepah pisang akan dingin. Begitu juga kepada kedua mempelai diharapkan membawa kesejukan di rumah keluarga mempelai laki-laki yang mereka masuki. Bahan lainnya adalah Indahan (Nasi putih) melambangkan keikhlasan, perencanaan, dan kerja keras. Karena untuk sampai di atas piring, nasi memerlukan proses yang panjang dan kerja keras. Dimulai dari bulan yang baik untuk menabur bibit dan turun ke sawah, mencangkul, menuai padi, menyimpan dalam lumbung sampai menumbuk dan menanak nasi. Selanjutnya sira (Garam) maknanya memberikan kekuatan. Maksudnya seperti kekuatan garam itulah kekuatan masyarakat keturunannya. 

Selanjutnya disediakan pula Air putih melambangkan keikhlasan karena dalam mengerjakan sesuatu haruslah dengan ikhlas dan bersih seperti air yang berwarna putih. Pada akhirnya disediakan pula Ulu ni horbo merupakan simbol dari kebesaran hati terhadap kedua mempelai. Karena keluarga pihak laki-laki sudah memberikan upa-upa yang paling besar kepada kedua mempelai.

Acara dibuka oleh protokol. Kemudian tuan rumah atau pemilik hajat menyampaikan sepatah dua kata kalimat kepada hadirin yang datang dengan maksud, tujuan dan alasan diadakannya acara Mangupa. Berikutnya adalah acara inti, yaitu penyampaian kalimat Mangupa. Si Pengupah mengambil posisi berdiri atau duduk berhadapan dengan orang yang akan di upah-upah, dan bahan Pangupa berada di antara mereka. Posisi si Pengupah adakalanya berdiri atau duduk di samping orang yang akan di-upah-upah. Hal ini tergantung pada kondisi ruangan. Sambil berdiri itu si Pengupah mengangkat talam, piring, atau wadah tempat bahan upah-upah ke atas kepala atau di depan orang yang di upah-upah. Namun bila berupa Mangupa Lengkap dan Mangupa Sangat Lengkap, maka talam cukup dibuka saja karena terlalu berat untuk diangkat. 

Selanjutnya si Pengupah melantunkan kata-kata Mangupa. Mencicipi hidangan Pangupa, yaitu orang yang di Upah-upah mencicipi hidangan pangupa itu. Ketika mencicipi makanan atau hidangan pangupa tersebut, si pengantin harus memakan telur yang ada mulai dari putih telur dan bagian kuning telurnya, setelah itu dilanjutkan dengan mengambil sedikit garam dan nasi. Doa Mangupa, doa dalam memberikan hidangan Mangupa berbentuk sajak atau bait-bait doa yang penuh makna dan nilai moral.

Ada banyak nilai yang terkandung di dalam upacara adat Mangupa. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memangil tondi ke badan) upacara Mangupa juga memiliki fungsi nasihat, doa, dan harapan. Setiap Kata Mangupa yang disampaikan oleh orang tua, tokoh yang dituakan, khususnya oleh si Pengupah pada saat pelaksanaan acara Mangupa memasuki hidup baru berisi nilai-nilai seperti nilai nasihat secara khusus diberikan kepada orang yang di-upah-upah. Selain itu, para hadirin yang ada di upacara mangupa yang mendengar nasihat juga merasakan dampak nasihat dari kata-kata Mangupa tersebut. Kemudian nilai doa, doa tersebut berisi permohonan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kejayaan bagi orang yang di-upah-upah, keluarga, dan kepada hadirin. 

Selanjutnya mempererat silaturahim mulai dari persiapan dan prosesi pelaksanaan Upacara Mangupa syarat dengan makna silaturahmi kepada anggota keluarga dan masyarakat.  Mulai dari pertemuan, gotong royong, doa bersama, makan bersama, dan saling bercengkerama tentu akan memupuk rasa persaudaraan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Setelah itu, memupuk rasa syukur atas nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita. Dalam kegiatan Mangupa terkandung pula makna pemupukan rasa syukur, ingat, dan tawakal kepada Allah SWT.
Danang Kusumo
Danang Kusumo Hanya seorang yang biasa saja,, ingin membagikan tulisan yang seadanya,,

1 comment for "Mengenal Tradisi Upacara Mengupah - upah Masyarakat Sumatera"

  1. unik sekali ya tradisi dan budaya di Indonesia beragam dari berbagi suku bangsa

    ReplyDelete