Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Tradisi Cenggok - Cenggok Labuhanbatu

Tradisi cenggok-cenggok adalah tradisi masyarakat Labuhanbatu. Kabupaten Labuhanbatu yang dilaksanakan untuk acara penyambutan tamu, hajatan pernikahan, sunat rasul, mengayun anak, aqiqah, dan khataman Al-Qur’an. Sementara itu, tradisi ini merupakan sebuah bentuk kesenian yang bermula di lingkungan kerajaan Bilah disajikan oleh kerajaan sebagai hiburan untuk menyambut tamu yang datang pada masa itu mengunjungi kerajaan Bilah yang dipimpin Sutan Takdir Indera Alam sebagai raja pertamanya berdiri sekitar tahun 1623. 

Tradisi Cenggok Cenggok Labuhanbatu

Mengenal Tradisi Cenggok - Cenggok Labuhanbatu


Tradisi ini biasanya disajikan pada acara pernikahan pementasan dilakukan pada malam hari pada saat malam berinai. Cenggok-cenggok juga dapat dilakukan pada siang hari untuk acara penyambutan tamu di tempat berlangsungnya acara. Selain itu, masyarakat menggelar tradisi cenggok-cenggok pada pesta khitanan (sunat rasul), aqiqah, mengayun anak, di Labuhanbatu Utara. Malam sebelum digelarnya pesta besar, biasanya pemilik hajatan mengundang warga sekampung untuk melakukan kenduri untuk menyampaikan doa-doa dan pujian kepada nabi Muhammad SAW dengan menjamu warga sekampung khususnya kaum pria dan orang-orang tua untuk bersantap malam di rumah pemilik hajatan. Setelah makan malam digelar di rumah atau pekarangan, para petua adat, pemuka agama atau ustadz membacakan doa dan Al Barzanji serta wiritan. Setelah itu, pemilik hajata biasanya mengundang hiburan yakni seni tarian cenggok-cenggok diselingi musik bordah berupa syair, berbalas pantun, dan pencak silat.

Tujuan hiburan ini untuk menghibur sang pengantin dan berjaga-jaga di rumah pengantin sampai pagi menjelang digelarnya pesta besar, dapat disimpulkan tradisi ini merupakan tradisi yang berupa seni pertunjukan sejak dahulu yang sekarang masih hidup dalam masyarakatnya sebagai hasil dari konteks sosial budaya masyarakat Melayu.

Tradisi masyarakat Melayu Labuhanbatu ini merupakan peninggalan seni pertunjukan masa lalu yang tetap diselenggarakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan upacara peralihan. Seni pertunjukan biasanya selalu diselenggarakan berkaitan dengan siklus kehidupan atau dikatakan juga dengan upacara peralihan, upacara peralihan seperti kelahiran, kehidupan dan kematian dan juga berkaitan dengan kualitas manusia contohnya dari kegagalan menuju sukses, bertambahnya usia, kenaikan pangkat, dari sakit menjadi sehat. Masyarakat Labuhanbatu sampai saat ini kerap menyelenggarakan acara penabalan bayi yang baru lahir, gunting rambut atau aqiqah, acara perkawinan, selamatan atas kesuksesan seseorang yang khatam Quran semuanya ditandai dengan menyelenggarakan tradisi cenggok-cenggok sebagai bentuk perayaan. Tradisi ini dilakukan oleh dua belas orang pemain yakni penabuh gendang, pemain pencak silat, pemantun, pemain biola, pemain bangsi (seruling) dan enam orang penari laki-laki.

Pementasan dimulai dengan kata sambutan dari ketua sanggar himpunan kesenian dilanjutkan dengan syair lagu Melayu. Setelah syair ditampilkan barulah acara dimulai dengan pantun sebagai pembuka kata dan ditutup dengan tari cenggok-cenggok. Cenggok-cenggok ini sebenarnya sebuah judul lagu dalam mengiring tari Melayu. Cenggok-cenggok tersebut tidak memiliki arti tetapi hanya syair lagu yang dinyanyikan bersama sebagai penyambung lirik yang di ulang-ulang setelah sebait syair.

Tradisi cenggok-cenggok merupakan tradisi yang berkaitan dengan siklus kehidupan atau upacara peralihan yang didalamnya terdapat ritual keagamaan, nyanyian, pantun dan tarian. Dalam pertunjukkannya tradisi ini penutur pantun, penari dan penonton dipertemukan dalam ruang, tempat dan waktu yang sama. Tradisi cenggok-cenggok berasal dari kesenian kerajaan yang berfungsi sebagai hiburan untuk menghibur tamu yang datang pada saat itu ke kerajaan Bilah. Raja Azman Syarif pada tahun menulis tentang Bilah dan Panai dalam lintasan sejarah, bahwa dalam masa pemerintahan Panai dipimpin oleh Raja Bilah I yaitu Raja Tahir gelar Indera Alam, kerajaan pada waktu itu berkedudukan di Bandar Kumbol daerah hulu sungai Bilah, sekarang terdapat di dalam lingkungan daerah kecamatan Bilah Hulu kabupaten Labuhanbatu. Sutan Tahir Indera Alam memerintah Kerajaan Bilah sekitar tahun 1623 dengan wilayah kekuasaannya meliputi daerah raja-raja kecil antara lain yaitu kerajaan Rantau Prapat, Siringo-ringo, Sihare-hare (Sigambal), Gunung Maria, Bandar Kumbol, Sibargot, Tanjung Medan (hulu sungai Bilah), Kuala Pinarik, Merbau, dan lain-lain. Saat ini Labuhanbatu yang merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Sumatera Utara merupakan kabupaten yang didalamnya terdapat masyarakat berbagai suku diantaranya Melayu, Mandailing, Batak Toba, Simalungun, Karo, Dairi, Nias juga etnis Tionghoa dan Jawa namun etnis yang dominan di Labuhanbatu Utara adalah Melayu dan Batak. Etnis Melayu di daerah Labuhabatu saat ini sebagian besar dapat dijumpai di daerah pesisir pantai. Di kerajaan inilah lahir kesenian cenggok-cenggok yang pada saat itu berada di lingkungan kerajaan tapi bentuk kesenian tradisi ini sudah berkembang menjadi kesenian rakyat. Gerakannya berasal dari perpaduan seni tari dan pencak silat dimana tarian ditarikan oleh pria dengan pola lantai yang sederhana biasanya berbentuk segi empat dan garis lurus. Alat musik yang mengiringi tarian etnis Melayu terdiri atas gendang pak-pung, robana, biola dan seruling.

Pertunjukan biasanya dilaksanakan pada malam hari yang dipentaskan di atas panggung yang ada dipelataran rumah pemilik hajatan. Setiap daerah Melayu memiliki tradisi yang berupa syair, sinandong, dan pantun dengan keunikan mereka masing-masing sebagai lokalitas daerah. Tradisi berpantun pada masyarakat Melayu Labuhanbatu merupakan tradisi yang turun temurun yang diwarisi oleh masyarakatnya. Masyarakat Melayu Labuhanbatu imengatakan cenggok-cenggok sebagai tradisi, karena tradisi ini sudah dipertunjukkan dari dahulu hingga saat ini.

Tradisi dipahami sebagai milik masyarakat sebagai kebiasaan yang turun temurun yang diatur oleh nilai-nilai atau norma-norma yang ada dalam masyarakat. Seorang pemantun atau pepantun (penutur pantun) mewariskan tradisi pantun kepada penutur yang muda melalui tradisi kelisanan, gerakan, gestur, dan kostum yang terdapat dalam pertunjukan cenggok-cenggok yang sudah ada sejak zaman dahulu sampai sekarang. Penyampaian pantun dapat disebut lisan karena sepenuhnya menggunakan kelisanan saat pantun dilantunkan juga yang diiringi gerakan tari dalam pertunjukannya. Di samping gerakan tari mengiringi pemantun, pertunjukan pantun ini juga disertai syair lagu yang biasanya juga berupa syair dalam bentuk pantun yang kesemuanya merupakan bagian dari tradisi cenggok-cenggok yang ada dalam masyarakat Melayu Labuhanbatu ini, dalam lantunan syair dan pantun disampaikan makna-makna atau pesan moral yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Hal ini berarti ketika para penutur yang lebih tua (nenek moyang terdahulu) tradisi ini diperkenalkan kepada generasi muda, bukan hanya secara musikal atau gerakan tari dan pencak silat tetapi juga pesan-pesan moral yang ada dalam pantun tersebut, yang berguna bagi masyarakat sebagai pemilik tradisi.

Pada saat pemantun yang lebih tua menyampaikan tradisi berpantun pada generasi yang lebih muda tidak hanya dilakukan sebagai bentuk teks yang harus diingat, tapi juga menyampaikan pesan yang berkesinambungan dalam tradisi tersebut. Pementasan tradisi cenggok-cenggok pada upacara adat perkawinan masyarakat Melayu dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan proses yang telah disepakati bersama oleh masyarakat Melayu

Tradisi ini adalah tradisi yang berasal dari Labuhan Bilik, juga berkembang di wilayah Labuhanbatu lainnya seperti Kotapinang dan Kualuh.  Kostum atau pakaian yang dikenakan penari dan pemusik adalah teluk belanga dengan tata rias yang sederhana. Pada umumnya pakaian antara penari dan pemusik dibedakan berdasarkan warnanya saja. Teluk belanga merupakan pakaian adat tertinggi dalam susunan adat Melayu. Baju ini memiliki motif polos, biasanya berwarna tidak terlalu mencolok, meskipun terkadang berwarna kuat seperti merah, kuning, hijau, atau biru. Warna pakaian biasanya senada dengan celana yang dipakai. Di antara baju dan celana panjang yang sewarna, dikenakan kain sarung yang diikat biasa setinggi lutut. Terkadang kain sarung difungsikan seperti semacam selendang.

Pada bagian kepala awalnya kaum lelaki Melayu mengenakan ikat kepala yang terbuat dari kain persegi empat yang diikat sedemikian rupa, ikat kepala tersebut disebut tanjak, yang biasanya terbuat dari kain songket. Penggunaan tanjak pada masa ini hanya dipakai ketika menghadiri acara-acara resmi seperti kenduri pernikahan atau acara adat lainnya. Untuk pemakaian sehari-sehari, kaum lelaki lebih memilih menggunakan songkok atau peci sebagai penutup kepala.

Pementasan tradisi cenggok-cenggok pada upacara adat perkawinan juga ditunjang oleh pelantang suara, alat ini digunakan untuk membantu para pemain terutama pelantun syair dalam hal kekuatan suara dengan penggunaan pelantang suara yang baik, para pemain lebih terbantu saat pementasan tradisi, tanpa harus memaksa pita suara, terutama guna melantangkan suara agar dapat didengar penonton. Penggunaan pelantang suara sebagai salah satu properti dalam tradisi masyarakat Melayu sekaligus memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional ini hadir diera teknologi saat ini dalam sebuah pertunjukan baik itu pertunjukan seni pada umumnya, peran pelaku atau pemain adalah ibarat roh dalam sebuah pertunjukan. Karena akan sangat tidak mungkin pelaksanaan sebuah pertunjukan tanpa adanya pelaku atau pemain. Tanpa adanya pelaku atau pemain sebuah acara
tidak mungkin dapat dilaksanakan dan dikatakan sebagai sebuah pertunjukan, dalam tradisi berpantun tersebut karena suara tawa dan sambutan dari penonton secara tidak langsung dapat memberikan semangat kepada para pemain.

Pelaksanaan waktu pertunjukan tradisi berpantun cenggok-cenggok biasanya tergantung pada pemilik hajatan atau pihak yang menyelenggarakan acara, kalau untuk hajatan perkawinan biasanya diselenggarakan pada malam hari yang merupakan rangkaian dari acara malam berinai atau naik pelaminan bagi masyarakat Melayu. Penentuan waktu juga dengan menimbang waktu dan hari yang baik terutama untuk pesta pernikahan tergantung dari yang mempunyai hajatan. Sedangkan untuk acara sunatan, aqiqah, atau khataman Qur’an bisa saja dilangsungkan pada malam hari atau siang hari sesuai dengan permintaan tuan rumah atau penyelenggara acara. Pada penyelengaraan pertunjukan yang dilangsungkan malam hari biasanya waktunya adalah ba’da sholat Isya (selepas dilaksanakannya sholat Isya) dan berlangsung hingga dini hari tergantung dengan kesepakatan antara yang punya hajatan dengan para pemantun atau pepantun, dalam proses penciptaan tradisi cenggok-cenggok penyanyi tidak menghafal, tetapi prosesnya adalah penyanyi mempelajari nyanyian dari penyanyi terdahulu atau sebelumnya dari kebiasaan mendengarkan dan kebiasaan menggunakan nyanyian itu sehingga nyanyian itu menjadi bagian dari dirinya. Membiasakan diri untuk mendengar dan menggunakan nyanyian dan memahami merupakan hal penting.

Apa diusung tepak puan
Batang jurame dinding perahu
Apa maksud tuan dan puan
Datangnya ramai kami ingin tahu

Banyak ladang perkara ladang
Indak samudah berladang padi
Bukan datang sembarang datang
Datangnya kami membawa arti

Bila botul itek surati
Mari lopaskan dalam taman
Bila botul membawa arti
Tolong sobut apa tujuan

Bukan kacang sembarang kacang
Kacang melilit diranting kayu
Bukan datang sembarang datang
Datang mengarak penganten baru

Muara Bengkalis si Tanjung Jati
Simpang kanan kota Belawan
Menganggok koris dipinggang kiri
Itu tuan mencari kawan

Memang Bengkalis si Tanjung Jati
itulah tuah dalam nagori
Tentulah keris dipinggang kiri
Barulah tandanya jantan sejati

Hang Jebat Hang Kasturi
Budak-budak tanah Malaka
Kalua hondak jangan dicuri
Mari kita batontang muka

Buah salak dalam piring
Ada madu di dahan kayu
Satu jalak satu biring
Bila diadu barulah tau

Penyampaian pantun banyak menggunakan perumpamaan dari alam. Tumbuhan, dan makhluk lain agar seorang manusia merenungkan dirinya dan memperbaiki dirinya. Seperti pantun di bawah ini;

Sungguh cantik siburung enggang
Hidup bertengger diranting jati
Tolong mainkan abah sitari gubang
Supaya sama kita menari

Syair dalam bentuk pantun berikut ini untuk mengiringi acara pernikahan.

Kampong salamat pokannya baru
Makan salada bekawan susuk
Semoga selamat penganten baru
Dari anak sampai kecucu
Ibu-ibu jalan kakandis
Panggang balanak dengan sisiknya
Ibu bapak jangan manangis
Anak mambawa untong nasibnya

Kalo pangantin poi kamokah
Tolong bawakkan permata batu
Kalo panganten mencari nafkah
Jangan lupakan yang lima waktu

Pantun di atas dilantunkan ketika ritual upacara adat pernikahan. Pantun dalam masyarakat Labuhanbatu juga digunakan untuk mengiringi tarian, pantun ini dilantunkan bersamaan dengan tabuhan gendang secara spontan. Sebagai kesenian tradisional, tradisi cenggok-cenggok mengakar dalam masyarakat Melayu. Sepanjang perjalanan bangsa Indonesia sejak merdeka sampai masa reformasi, nilai-nilai dan tradisi ini ikut berperan membangun kesadaran sosial dan persaudaraan mereka sebagai masyarakat Melayu

Tradisi  cenggok-cenggok berkaitan dengan kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun, mencakup berbagai nilai budaya, adat istiadat, sistem kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, dan sistem kepercayan. Artinya adanya ketentuan atau kesepakatan yang membuat masyarakat Melayu sebagai pendukung tradisi mematuhi ketentuan yang menghasilkan kesepakatan sampai saat ini. Dari pakaian yang digunakan, tempat duduk yang terpisah antara kaum laki-laki yang berada di halaman pada saat acara berlangsung, sedangkan perempuan berada di ruangan yang ada di dalam rumah. Gambaran ini memperlihatkan semua mempunyai kesepakatan dalam sebuah tatanan yang utuh untuk dipatuhi secara bersama-sama oleh masyarakat Melayu sebagai pemilik tradisi. Tradisi berpantun cenggok-cenggok ini banyak sekali nilai budaya yakni mempererat tali persaudaraan antar warga di kampung, antara tokoh agama dan adat juga dan antara sanak sodara, menjunjung tradisi yang diwariskan nenek moyang kami karena tradisi ini juga tidak melupakan wujud syukur kepada Allah disamping nilai kesenian dan budayanya, pada acara adat pernikahan Melayu pada umumnya kegiatan berbalas pantun selalu hadir dan dapat kita saksikan dari dimulainya proses pelaksanaan dalam adat Melayu dari mulai persiapan pelaksanaan sampai pada proses akhir. Pelaksanaan upacara adat pernikahan Melayu secara umum terdiri dari merisik, meminang, antar belanja, menggantung, ijab qabul, tepung tawar, berinai, berandam, khatam Al-Qur’an, upacara langsung, berarak, makan nasi hadap-hadapan dan upacara menyembah orang tua. Secara umum, adat perkawinan orang Melayu Labuhan ini dimulai dengan merisik dan diakhiri dengan upacara menyembah. Dari keseluruhan prosesinya memperlihatkan kebesaran kebudayaan Melayu yang dimiliki masyarakat Melayu di Labuhanbatu ini. Adat perkawinan tradisional masih dilakukan walaupun pada pelaksanaanya tidak seutuh pada masa lalu.

Upacara adat perkawinan orang Melayu Labuhan ini biasanya digelar dari pagi hingga malam hari dilanjutkan pada pagi keesokan harinya. Pelaksanaannya dipusatkan di rumah pengantin perempuan. Meskipun demikian, di rumah pengantin laki-laki biasanya juga digelar upacara sederhana bersama kerabat. Berikut tahapan atau proses yang dilaksanakan dalam acara pernikahan, yakni;

1. Pemimpin dan Peserta Upacara
Upacara adat perkawinan Melayu Labuhanbatu dipimpin oleh tuan kadi dan bidan pengantin. Keduanya bertanggung jawab pada setiap prosesi upacara. Upacara ini disaksikan oleh orang tua kedua pengantin, sanak keluarga, dan tamu undangan.

2. Peralatan dan Bahan
Peralatan dan bahan upacara adat perkawinan Melayu tergantung pada model perkawinan yang akan digelar. Akan tetapi, umumnya peralatan dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
  • Tepung tawar berupa bedak selo/sejuk, beras basuh, beras kunyit, bunga rampai, dan daun inai yang digiling halus.
  • Tempat air pecung.
  • Cerek (teko).
  • Ketur.
  • Tempat setanggi.
  • Tepak sirih.
  • Kepuk atau sesaji berisi nasi kunyit (pulut kuning), ulur-ulur, telur rebus diberi warna merah.
  • Tujuh air bunga (air pecung).
3. Proses Pelaksanaan
Secara umum, proses pelaksanaan upacara adat perkawinan Melayu meliputi 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.


a. Persiapan
Pada tahap ini, kedua keluarga dibantu oleh sanak kerabat dan tetangga menyiapkan segala keperluan untuk proses perkawinan yang akan dilakukan. Mulai dari perlengkapan hingga kebutuhan adat.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan upacara adat perkawinan orang Melayu Labuhanbatu digelar dalam beberapa tahap, yaitu merisik, meminang, antar belanja, menggantung, ijab qabul tepung tawar, berinai, berandam, khatam Al-Qur’an, upacara langsung, berarak, membuka pintu, bersanding, makan bersuap, makan hadap-hadapan, menyembah mertua, mandi kumbo taman, makan nasi damai, dan upacara menyembah. Berikut adalah pelaksanaan selengkapnya.

  • Merisik adalah proses mengenali perempuan yang akan dijadikan istri. Proses ini dilakukan secara bertahap oleh pihak keluarga laki-laki. Caranya dengan mengirim orangtua laki-laki atau utusan untuk mencari informasi tentang calon istri, menyangkut tingkah lakunya, kemampuannya mengurus rumah tangga, perangai terhadap orangtua, tetangga, dan masyarakat. Satu hal yang terpenting adalah menanyakan apakah anak perempuan tersebut sudah atau dipinang, atau sudah mengikat janji dengan orang lain. Jika sudah, kedatangan keluarga laki-laki hanya untuk menjalin persaudaraan. Merisik dilakukan setelah mendengar kabar dari calon suami bahwa ada gadis yang menjadi idaman hatinya. Merisik juga dilakukan oleh keluarga perempuan untuk menyelidiki calon pengantin laki-laki.
  • Meminang, setelah melalui proses merisik dan kedua keluarga bersepakat untuk menikahkan kedua anaknya, tahap selanjutnya adalah meminang. Pada proses ini, pihak laki-laki mengirim utusan ke pihak perempuan untuk menyampaikan niat menikah pihak laki-laki. Utusan yang dikirim biasanya orang-orangtua pilihan yang bijak dan mengerti adat. Peminangan biasanya disampaikan dengan bahasa pantun dan pepatah petitih serta diawali dengan ritual tepak sirih Melayu.
  • Antar Belanja, tahapan berikutnya sebelum menunggu hari pernikahan, pihak laki-laki melakukan tahap antar belanja, yakni mengirimkan barang-barang tertentu, seperti uang atau cincin ke pihak keluarga perempuan dengan tujuan membantu keluarga perempuan dalam menggelar upacara pernikahan dan sebagai ikatan janji bahwa kedua keluarga akan menikahkan anaknya. Pada sebagian orang Melayu Labuhan Batu, tahap ini juga biasa diisi dengan ritual tukar cincin. Antar belanja umumnya disesuaikan dengan derajat dan kedudukan pihak laki-laki dari strata sosialnya. Besarnya hantaran dimungkinkan dapat mengangkat derajat pihak laki-laki. Pada tahap ini, kedua belah pihak menyepakati waktu akad nikah dan upacara langsung (bersanding/resepsi) akan dilaksanakan.
  • Menggantung, tahap ini diisi dengan menghias rumah (tengah rumah), pelaminan, tempat tidur, dan tempat bersanding kedua pengantin kelak di rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini dilakukan oleh keluarga dan kerabat dibantu oleh tetangga dan orang tertentu. Pada tahap ini pula, orangtua mempelai perempuan akan melakukan ritual tepuk tepung tawar di setiap sudut tempat-tempat di atas. Ada pembedan dalam pemasangan pelaminan, untuk raja pelaminannya tingkat 9, bangsawan 7, datuk-datuk 5, dan orang biasa 3. Namun, hal ini sekarang sudah diubah dengan hanya ditentukan oleh kemampuan pihak keluarga.
  • Ijab qabul, Pada tahap ini adalah tahapan pengucapan janji pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan yang dipimpin oleh tuan kadhi (wakil orangtua pengantin  perempuan) dan disaksikan kedua orangtua pengantin serta dihadiri tamu undangan. Kegiatan ini dilakukan di rumah pengantin perempuan dan umumnya digelar setelah selesai salat maghrib atau pada pagi hari. Pengantin laki-laki duduk di atas tilam kecil beralas tikar atau karpet. Sebelumnya, orangtua adat mengadakan ritual memantrai sekitar tempat duduk ini agar dijauhkan dari niat jahat. Sebelum ijab qabul, pengantin laki-laki akan duduk bersimpuh di hadapan orangtuanya, datuk dan nenek, dan handai tolan terdekat untuk memohon restu. Di saat yang sama, tuan kadhi akan menemui calon pengantin perempuan yang disembunyikan di sebuah kamar atau ruangan untuk menanyakan persetujuannya untuk dinikahkan. Setelah mendapat persetujuan calon pengantin perempuan, barulah ijab qabul dilaksanakan. Selesai ijab qabul, pengantin laki-laki dibawa ke sanak keluarga pengantin perempuan untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan dan peresmian pernikahan. Lalu, pengantin laki-laki masuk ke dalam ruangan khusus yang sudah disediakan. Malam itu ia belum diperbolehkan bertemu dengan pengantin perempuan.
  • Tepung Tawar (Berinai Lebai), pengantin perempuan keluar dari ruangan (bilik/kamar) setelah didandani, lalu didudukkan di pelaminan. Setelah itu, orang-orangtua yang dihormati diikuti orangtua pengantin dan kerabat melakukan tepung tawar. Jumlah orangtua tersebut biasanya ganjil, misalnya 3, 5, atau 7. Jika berjumlah genap, hal itu justru dianggap akan mengakibatkan sesuatu yang kurang baik bagi pengantin. Acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang disediakan. Pada tahap ini pula, di rumah pengantin perempuan digelar pembacaan syair-syair barzanji, marhaban, kesenian bordah dan tradisi ini dilaksanakan semalam suntuk biasanya dimulai pukul 22:00 wib sampai pukul 2 atau 3 dini hari.
  • Berinai adalah upacara memberikan tanda-tanda pada telapak tangan, kuku, jari tangan dan kaki pengantin perempuan, sebagai simbol bahwa ia adalah pengantin baru. Inai dibuat dari daun inai yang ditumbuk halus dicampur dengan air asam Jawa sehingga berwarna merah. Namun, menurut kepercayaan, jika inai yang dilekatkan di tangan atau kaki tidak berwarna merah, maka kegadisan pengantin patut diragukan.
  • Berandam (berendam) adalah membersihkan diri, bercukur, dan memotong anak rambut dan rambut di pelipis. Berandam hanya untuk pengantin perempuan dan dilakukan di rumah oleh bidan pengantin (perempuan tua yang sudah ahli). Berandam digelar setelah sebelumnya pengantin perempuan dimandikan menggunakan air tujuh bunga (air pecung) lalu dipakaikan pakaian adat Melayu. Berandam merupakan simbol penyucian pengantin perempuan dari berbagai dosa.
  • Khatam Kaji (Khatam Al-Qur’an) Tahap ini di isi dengan membaca kitab suci Alquran dari surat Dhuha hingga surat terakhir. Khatam kaji biasa digelar jam pagi hari sampai siang hari siang yang diiringi oleh marhaban kaum perempuan oleh kelompok pangajian yang diiringi lantunan ayat-ayat suci dan syair nasyid yang dilakukan oleh kelompok pengajian.
  • Upacara Langsung adalah upacara menyandingkan kedua pengantin di pelaminan di rumah pengantin perempuan. Upacara ini biasanya digelar pada siang hari. Pengantin perempuan berpakaian adat Melayu. Setelah siap, seseorang diutus untuk memberitahukan dan menjemput pengantin laki-laki bahwa upacara bersanding siap dimulai. Setelah sebelumnya makan bersama, pengantin laki-laki akan berangkat dari rumahnya diiringi orangtua dan kaum kerabat menuju rumah pengantin perempuan.
  • Berarak, perjalanan dari rumah pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan disebut sebagai prosesi berarak (mengarak pengantin). Umumnya, pengantin laki-laki akan didampingin oleh pamannya sebagai harapan bahwa mereka berasal dari keluarga terhormat. Pengantin laki-laki berpakaian adat Melayu . Sesampai di rumah pengantin perempuan, pengantin laki-laki didudukkan di kursi yang telah disediakan dan disambut dengan tabuhan gendang dan seni pencak silat. Pengantin laki-laki kemudian dibawa menuju pintu rumah dan di sana ditutupkan kain pada kepalanya.
  • Membuka Pintu, sesampai di depan pintu, telangkai melantunkan pantun yang kemudian dijawab oleh rombongan pengantin laki-laki. Berbalas yang bisa berupa pujian maupun sindiran ini menjadi ritual sebelum masuk rumah. Setelah itu, pengantin laki-laki menyodorkan amplop berisi uang kepada bidan pengantin sebagai tanda pembuka pintu. Pintu rumah tidak akan dibuka sebelum uang ini diberikan.
  • Bersanding, setelah berbalas pantun, pengantin laki-laki dibimbing bidan pengantin menuju ke pelaminan dan didudukkan di samping pengantin perempuan yang ditutup kepalanya dengan pura-pura tidur. Lalu, bidan pengantin mengambil sirih dari tangan pengantin laki-laki dan memutar-mutarkannya di atas kepada kedua pengantin sebanyak 7 kali. Konon, jika sirih ini dimakan oleh anak gadis atau bujang, maka niscaya ia akan cepat dapat jodoh.
  • Makan Bersuap, sesaat setelah bersanding, bidan pengantin memberikan nasi pulut kuning kepada kedua pengantin agar mereka saling bersuap. Prosesi ini merupakan tanda kasih di antara kedua mempelai.
  • Makan Hadap-hadapan, bidan pengantin membimbing kedua mempelai turun dari pelaminan menuju sebuah ruangan. Di ruangan ini, kedua pengantin makan sambil  berhadap-hadapan disaksikan kerabat dan tamu yang hadir. Prosesi ini sebagai simbol kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian istri kepada suami.
  • Menyembah Mertua, malam harinya, kedua mempelai beserta rombongan pergi ke rumah pengantin laki-laki untuk melakukan prosesi menyembah mertua. Baik mertua maupun sanak keluarga memberikan buah tangan berupa uang, kain, atau baju sebagai hadiah sebagai ucapan selamat. Setelah itu, diadakan makan bersama. Setelah itu, pengantin dan rombongan pulang ke rumah pengantin perempuan. Di sana, biasanya digelar acara kesenian. Pada malam berikutnya, orangtua pengantin laki-laki bergantian menjemput pengantin perempuan ke rumahnya. Setelah acara ini, kedua pengantin baru boleh keluar rumah.
  • Mandi Taman, sehari setelah acara bersanding, kedua pengantin dimandikan menggunakan air yang telah dimantrai (air tolak bala), dicampur dengan bunga-bunga tertentu. Sebelum mandi taman, dagu kedua pengantin diusap dengan tepung tawar, batu asahan, telur ayam, dan batu cincin. Setelah itu, pengantin didudukkan di kursi, lalu bidan pengantin mengelilingi mereka sebanyak 7 kali sambil membawa kelengkapan mandi. Oleh bidan pengantin, kedua pengantin dibasahi mulai dari kepala, muka, lalu badan. Seusai mandi, kedua pengantin berganti pakaian lalu dibimbing menuju bilik seraya menginjak padi yang ada dalam dulang. Kedua pengantin diselubungi kain panjang sebagai pertanda suami istri. Sepanjang menuju bilik, kedua pengantin ditaburi bunga rampai yang dicampur kepingan uang logam yang kemudian diperebutkan anak-anak kecil.
  • Makan Nasi Damai, setelah mandi taman, kedua pengantin didudukkan di pelaminan lalu diberikan hidangan nasi pulut putih oleh orangtua pengantin laki-laki. Nasi ini disebut dengan nasi damai karena pertanda bahwa pihak keluarga pengantin laki-laki ikut bertanggung jawab atas kedamaian keluarga kedua mempelai.
4. Penutup
Acara ditutup dengan upacara menyembah yang dilakukan pada malam selepas bersanding. Kedua pengantin akan pergi ke sanak keraba untuk bersalaman dan memohon doa restu. Upacara ini juga bertujuan mendekatkan keluarga kedua pengantin.

5. Doa-doa

Dalam upacara adat perkawinan Melayu Labuhanbatu terdapat doa-doa khusus, antara lain;
a. Doa permohonan agar kedua mempelai sehat dan damai kehidupannya.
b. Doa permohonan agar kedua mempelai beserta keluarganya dijauhkan dari bencana.
c. Doa permohonan pembersihan doa saat berandam.

6. Pantangan dan Larangan
Kedua pengantin dilarang keluar rumah sampai keduanya melakukan prosesi menyembah mertua di rumah pengantin laki-laki. Secara umum, adanya upacara adat perkawinan ini menjadi bukti kekayaan kebudayaan Melayu Labuhanbatu.

Tradisi lisan cenggok-cenggok umumnya dilaksanakan saat pelaksanaan pernikahan yakni pada malam berinai. Karenanya dalam pertunjukan tradisi lisan cenggok-cenggok tari inai merupakan tarian yang selalu dihadirkan. Gerak tari inai adalah gerakan berpola, yang diambil dari gerak-gerak silat, yaitu diantaranya seni bela diri dalam kebudayaan Melayu. Terdiri dari gerak pembuka, isi, dan penutup. Pola lantainya bebas dan variatif. Musik iringan yang digunakan yang terdiri dari biola dan akordion yang membawa melodi secara heterofoni, ditambah satu gendang ronggeng yang mengiringi rentak musik. Lagu dan rentak yang digunakan disebut patam-patam. Fungsi tari inai yang utama adalah sebagai ekspresi ritual yaitu menjaga calon mempelai wanita dari gangguan-gangguan supernatural yang berasal dari manusia atau makhluk halus.

Konsepsi lain yang tergambar dalam tarian pencak silat yang dapat dimaknai sebagai tari bela diri menggambarkan secara kejantanan laki-laki dalam bela diri dimana seorang laki-laki yang sudah siap untuk bekeluarga siap secara lahir dan bathin dalam menjaga keluarga nantinya.  Secara keseluruhan tradisi cenggok-cenggok diawali dengan lantunan marhaban, zikir Al-Barzanji, tari bunga, tari inai, tari cenggok-cenggok, berbalas pantun, dan pertunjukan seni bela diri pencak silat. Tahapan-tahapan dari prosesi pelaksanaan tradisi cenggok-cenggok pada upacara adat perkawinan ini meliputi akad nikah, malam bersanding, dan menghantar pengantin.

Akad nikah ini yaitu pasangan pengantin Dewi dan Zulkifli dilaksanakan pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 – 11.00 wib. Pada pelaksanaan acara berinai besar atau malam bersanding pada masyarakat Melayu Labuhanbatu ini didahului dengan pelaksanaan acara akad nikah yang sangat sakral sebelumnya. Waktu pelaksanaan didasarkan pada musyawarah dan mufakat kedua belah pihak keluarga calon pengantin laki-laki dan perempuan pada saat pertemuan sebelumnya kegiatan ini disebut merasi.

Pada acara ini calon pengantin laki-laki diantar ke rumah pihak pengantin perempuan untuk prosesi akad nikah. Calon pengantin laki-laki didampingi oleh pihak keluarga sekitar sepuluh sampai duapuluh orang, yang terdiri dari orang yang dituakan atau dihormati baik laki-laki maupun perempuan. Pakaian yang dipakai calon pengantin sesuai dengan apa yang telah disepakati sewaktu meminang. Pada saat pelaksananan akad nikah ini calon pengantin pria menggunakan teluk belanga yang sudah dimodifikasi secara modern dan calon pengantin wanita mengenakan kebaya melayu yang juga sudah dimodifikasi, warna baju senada dengan warna baju calon pengantin laki-laki. Uang mahar telah dipersiapkan dengan cara dibungkus dalam kain tiga lapis yang berlainan warna. Bungkusan uang tersebut ditambahi bertih, beras kuning dan bunga rampai, serta uang. Kesemuanya diikat dengan menggunakan benang pancawarna yang diikat dengan simpul hidup. Kemudian uang yang telah dibungkus dimasukkan ke dalam cepu dan cepu tersebut dibungkuskan pula baik-baik pada sehelai kain panjang. Setelah selesai maka diletakkan di atas semerip.

Uang mahar tersebut digendong untuk dibawa kerumah pihak perempuan. Peralatan-peralatan yang turut dibawa yakni: pahar, yang berisi pulut kuning, ayam panggang, dan sebuah tepak nikah. Di dalamnya dimasukkan sebagian biaya nikah untuk tuan kadhi. Biasanya biaya nikah dibayar masing-masing oleh kedua belah pihak. Sementara itu dirumah pengantin perempuan telah dipersiapkan juga tepak sirih dan sebuah pahar pulut kuning. Pahar tersebut nantinya dipertukarkan antara pihak laki-laki dan perempuan saat akan pulang. Acara pernikahan ditempatkan di ruangan bagian dalam rumah yang sudah dipersiapkan dengan yang sudah dipersiapkan dengan alas karpet pada masa lalu digunakan tikar ciau dan tilam untuk tempat duduk calon pengantin yang diatasnya dibentangkan sebuah katil yang dilapisi kain. Pada saat rombongan pihak laki-laki telah sampai dirumah perempuan, maka kaum laki-laki dipersilahkan duduk diruang muka dan kaum perempuan ditempatkan diruang dalam. Alat perlengkapan upacara akad nikah berupa: tepak sirih nikah, balai, dan uang mahar diletakkan diruang muka ditengah-tengah hadirin. Selanjutnya pihak telangkai perempuan mulai berkomunikasi secara verbal sebagai pembuka kata dengan cara berpantun, ditujukan kepada pihak laki-laki. Sementara calon pengantin laki-laki duduk diatas tilam yang sudah dihias dan dihadapan calon pengantin laki-laki duduk tuan kadin dan disaksikan oleh dua orang saksi dari pihak calon pengantin laki-laki dan perempuan. Pihak keluarga kedua belah pihak duduk menyaksikan pelaksanaan akad nikah dengan khidmat, kemudian tuan kadhi membacakan doa nikah dan dilaksanakanlah akad nikah tersebut, ucapan akad nikah berlangsung dengan lancar selanjutnya dibacakanlah sighat taklik oleh pengantin laki-laki. Setelah acara akad nikah dilaksanakan pengantin kemudian memberi salam sembah kepada kedua orang tua, sanak kerabat dan para undangan. Acara selanjutnya adalah makan bersama, pihak tuan rumah telah menyediakan makanan untuk keluarga, kerabat, tamu yang menghadiri prosesi akad nikah tersebut. Makanan yang disajikan adalah makanan khas Melayu Labuhanbatu diantaranya adalah pajeri nenas dengan bumbu kacang. Saat pihak pengantin laki-laki pulang membawa balai pulut kuning yang dipersiapkan oleh pihak pengantin perempuan, balai pulut kuning terdiri dari pulut kuning, ayam gulai yang sudah dipanggang, dan telur rebus yang ditempatkan sebagai bunga balai.

Malam Berinai/malam bersanding rangkaian acara berikutnya dilanjutkan pada malam harinya yang sering disebut sebagai malam berinai atau malam bersanding bagi masyarakat Melayu Labuhanbatu yang merupakan bagian dari adat perkawinan Melayu yang biasanya diselenggarakan setelah berlangsungnya acara akad nikah pada pagi harinya. Malam berinai atau disebut juga oleh masyarakat Melayu sebagai malam bersanding, merupakan serangkaian acara yang dilaksanakan pada malam hari sebelum keesokan harinya acara pesta perkawinan dilaksanakan. Penanda bahwa mereka sebagai pasangan pengantin baru, jari tangan dan kaki, telapak tangan dan kakinya diberi inai. Kedua pengantin didudukkan untuk diberi inai pada kuku jari tangan dan kaki. Dalam kebudayaan Melayu di Sumatera Timur masa lalu biasanya malam berinai dilakukan tiga malam berturut-turut yakni (a) malam berinai pertama disebut malam berinai curi dimana pada pelaksanaan kegiatannya calon pengantin wanita diberi inai oleh teman-temannya saat ia tidur sehingga tidak ketahuan, (b) malam kedua disebut malam berinai kecil, calon pengantin wanita dirias dan didudukan di pelaminan yang dihadiri oleh pihak keluarga, sahabat dan kerabat untuk ditepung tawari. (c) Selanjutnya pada malam ketiga adalah malam berinai besar. Namun pada masa sekarang ini dilaksanakan satu malam saja guna efisiensi waktu dan dana. Pelaksanaan acara malam berinai diadakan malam sebelum pesta perkawinan, misalkan pesta akan dilaksanakan pada hari Sabtu, maka malam berinai atau bersanding dilaksanakan pada hari Jum’at malam. Tamu undangan yang umumnya kaum laki-laki berdatangan kerumah pemilik hajatan, tamu disambut oleh tuan rumah dan pihak keluarga. Tamu yang sudah berdatangan malam itu duduk ditikar yang telah disediakan di halaman tuan rumah, hidangan makan malam telah disediakan pada piring-piring kecil yang berisi berbagai ragam lauk pauk khas daerah Tamu dipersilahkan menikmati makanan yang disajikan tuan rumah yang dipandu oleh pembawa acara. Pada saat acara makan malam para undangan menikmati hidangan mereka dengan duduk berhadapan yang terdiri dari beberapa baris. Selepas acara makan malam yang disajikan berikut makanan kudapan. Acara kemudian dibuka oleh pembawa acara yang merangkap telangkai yang sudah dipersiapkan oleh pemilik hajatan.

Acara dilanjutkan dengan pemberian upah-upah dan tepung tawar yang dimulai dari kedua orang tua pengantin sanak kerabat dan tamu yang hadir. Selepas acara upah –upah dan tepung tawar digelar tradisi lisan cenggok-cenggok yang terdiri dari beberapa seni pertunjukan antara lain, bordah, tari, pencak silat, pantun yang dipersembahkan oleh kelompok seni yang ada di Labuhanbatu.

Menghantar Pengantin, setelah malam berinai atau bersanding  diadakan keesokan paginya dirumah pengantin perempuan yang dimulai pagi hari, diadakan acara khataman Al-Qur’an dan marhaban dari pihak perwiritan perempuan. Setelah selesai acara khataman Al-Qur’an dilanjutkan dengan menunggu kedatangan pihak pengantin laki-laki. Para undangan pesta hajatan sudah mulai berdatangan dan tamu undangan langsung dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disajikan secara prasmanan. Prosesi dimulai dengan kedatangan pengantin laki-laki berpakaian pengantin lengkap disertai sanak keluarga dan kerabat. Di pelaminan pengantin perempuan telah menanti dengan memegang sirih genggam. Di halaman rumah pengantin perempuan, sebelum sampai ke pelaminan, pengantin laki-laki diapit oleh keluarga yang datang berarak beramai-ramai disertai musik pengantar. Sedangkan di depan pekarangan rumah pengantin perempuan telah  menunggu pihak pengantin perempuan.

Arakan rombongan pengantin laki-laki disambut dengan pertunjukan pencak silat dan tari bunga. Selembar kain panjang telah direntangkan, sehingga rombongan pengantin laki-laki tidak dapat masuk. Rombongan pihak pengantin laki-laki berhenti, karena ditahan oleh pihak pengantin perempuan. Disambut oleh kedua telangkai dari kedua belah pihak dengan pantun. Mereka saling beradu pantun disertai dengan tawar menawar tentang penyelesaian adat. Setelah dijumpai kesepakatan rombongan pengantin laki-laki dipersilahkan masuk kedalam ruangan dengan dibukanya hempang pintu. Sembari masuk menuju pelaminan pengantin laki-laki terlebih dahulu memijak batu lagan selanjutnya ia menuju pelaminan. Pasangan pengantin duduk bersanding di pelaminan, balai pulut  yang dibawa pihak pengantin laki-laki diletakkan sejajar dengan balai pulut pihak perempuan. Selanjutnya pihak pengantin ditepung tawari oleh kedua orang tua masing-masing, kerabat, tokoh adat, tetangga dan lainnya.
Danang Kusumo
Danang Kusumo Hanya seorang yang biasa saja,, ingin membagikan tulisan yang seadanya,,

4 comments for "Mengenal Tradisi Cenggok - Cenggok Labuhanbatu"

  1. Baru tahu kalo ada tradisi cenggok cenggok di labuhan batu. Tradisinya unik juga ya. Semoga saja bisa bertahan tidak tergerus zaman.😄

    ReplyDelete
  2. Panjang amat. Jujur aku gak baca semuanya. Jangan lupa kunbal ya ke httsp//otakusiana.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. lebih lengkap jika ada videonya juga, mase

    ReplyDelete